Kamis, 29 Desember 2011

GARAM DAN TELAGA



Suatu ketika, hiduplah seorang tua bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.


Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarkan dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini dan katakan bagaimana rasanya ...", ujar Pak tua itu.


"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.


Pak tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.


Pak tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-ngaduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telga ini dan minumlah". Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak tua berkata lagi. "Bagaimana rasanya ?".


"Segar", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu ?", tanya Pak tua lagi. "Tidak"' jawab si anak muda.


Dengan bijak, Pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama".


"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu".


Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan".


Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Minggu, 30 Oktober 2011

PIZZA SPESIAL

BAHAN-BAHAN

Tepung terigu    250 gram
Kuning telur        2 butir
Gula                2 sdm
Fermipan          2 sdt
Susu bubuk      2 sdm
Air                140 cc
Mentega         2 sdm
Keju kraft secukupnya

ISI

Bawang bombay
Daging, jamur cincang, sosis
2 sdm mentega
2 sdm susu bubuk
1 sdm Lee Kum Lee
Penyedap rasa dan saus secukupnya

CARA MEMBUAT :
KULIT
Campurkan air, gula, fermipan, keju parut dan telur, aduk sampai rata.
Masukkan terigu berikut mentega dan aduk hingga menyatu.
Biarkan adonan selama + 7 menit ditutup dengan kain.

ISI
Tumislah bawang bombay, daging, sosis, jamur, mentega.
Masukkan susu bubuk, le kum kee, penyedap dan saus.

Masukkan adonan kulit dalam wajan sesuai model yang kita kehendaki
Bubuhkan adonan isi yang telah ditumis, panaskan 12 menit
Sajikan dalam keadaan hangat.

Senin, 10 Oktober 2011

DUA BUAH KUTUB


by. Andrie Wongso
Saat kembali ke kota kelahiran, saya menyempatkan diri untuk berjumpa dengan beberapa kawan lama. Di antaranya adalah dua bersaudara, yang salah satunya berada di panti rehabilitasi narkoba sedangkan saudara lainnya adalah seorang pengusaha otomotif yang terbilang sukses. Di antara kawan-kawan seumur, hal ini sering menjadi bahan pergunjingan. Mengapa dua bersaudara yang berasal dari orang tua yang sama, dibesarkan dalam lingkungan yang sama, dapat menjadi sangat berbeda.
Kunjungan saya ke panti rehabilitasi di mana kawan saya itu berada, cukup membuat dia terhibur. Dalam salah satu perbincangan dia menjawab pertanyaan klise saya, "Ya, semua ini gara-gara ayah saya." Dengan lirih dia meneruskan ucapannya, "Ayah saya seorang pemabuk dan penjudi, keluarga saya bangkrut dan berantakan, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, sama sekali tak pernah memikirkan saya."
Masih tertunduk lesu dan katanya lagi "Apa yang bisa diharapkan dari saya, hasil dari sebuah keluarga yang berantakan ini?"
Sehari sebelum kembali ke Jakarta, saya masih sempat menemui saudaranya yang siang itu berada di show-room-nya yang cukup besar dengan aneka mobil terpajang.
Di tengah kegembiraan karena lama tidak berjumpa, salah satu pembicaraan kami adalah tentang saudaranya yang ada di panti rehabilitasi narkoba.
Pertanyaan spontan pun mengalir dari bibir saya, "Apa yang membuat kamu berbeda dengan saudaramu dan bisa sukses seperti sekarang ini?"
Nampak dia menghela nafas dan kemudian berkata, "Sudah terlalu banyak penderitaan dalam kehidupan saya dan keluarga kami, saya hanya bertekad untuk mengakhirinya.
Saya benar-benar tidak ingin bernasib seperti Ayah saya dan ingin membahagiakan Ibuku. Itulah tekad saya selama ini."
Keduanya mendapatkan kekuatan dan motivasi dari sumber yang sama. Bedanya adalah yang seorang memanfaatkannya secara positif, dan seorang lainnya menggunakannya secara negatif.

"Mereka yang positif tak peduli segelap apapun keadaannya, kepalanya selalu tegak serta menengadah melihat semua kemungkinan dan semua itu ada di hadapannya."

Sabtu, 08 Oktober 2011

ROTI ERRIA

Roti Khas Gendis yang Ekonomis namun mempunyai rasa yang tetap menggoda selera. Harga hanya Rp 1.000,- cocok untuk bekal sekolah anak, kelengkapan snack dalam doos dan lain - lain.

Baca juga :
Gendis Klasik 1
Gendis Klasik 2
Roti Unyil

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by http://www.facebook.com/SMNurhayati' - Premium Blogger Themes | Facebook Themes